KETIKA banyak yang berujar bahwa perempuan ketika menikah akan putus kehidupannya. Nampaknya, itu hanya isapan jempol belaka menurut aku, semua tergantung kebijakan pasangan sebelum memulai untuk hidup bersama.
Menjadi perempuan karir atau ibu rumah tangga itu merupakan sebuah pilihan hidup masing-masing orang, pasti yang memilih diantaranya mempunyai alasan yang sama penting dalam kehidupannya.
Aku memilih menjadi perempuan rumahan sudah lama sekali, makanya ketika menikah aku sama sekali tidak kepikiran untuk bekerja. Karena memang aku tidak suka bekerja yang serius, diam di kantor. Pilihan ini memang mengundang kontroversi di sekitar, banyak pertanyaan-pertanyaan seperti ini "masa gak mau kerja?masa mau tergantung sama uang suami terus?, emang gak mau punya uang jajan sendiri." semua itu kan pilihan dan ada resikonya.
Empat tahun sudah aku menikah, sebagai istri yang sedang belajar menjadi istri yang baik adalah mengabdi kepada suaminya. Kami memiliki pekerjaan yang sama-sama berat, aku dirumah mengurusi segala hal tentang perumahtanggan dan dia bekerja mencari nafkah. Dia lebih rentan terkena debu, penyakit, kehujanan, kena macet dimana-mana, sedangkan aku dirumah walaupun cape masih bisa berlindung dari panas, hujan dan debu, masih bisa menikmati sepiring buah sambil menonton televisi.
Pilihan kita memang berbeda-beda, ada yang bekerja, berwirausaha atau menjadi ibu rumah tangga saja. Semua tidak ada yang salah dan tidak boleh disalahkan. Semua pasti punya alasannya sendiri. Kami mempunyai tanggung jawab masing-masing, kelak dihadapan Allah semua akan dipertanggungjawabkan.
Meski pemasukan dirumah kami hanya lewat satu pintu, alhamdulillah masih bisa makan dan jalan kemana-mana. Suami selalu berusaha bagaimana dapur selalu ngebul. Walaupun pernah mengalami rasa sulit sampai membongkar celengan, setidaknya aku tak memiliki beban yang harus dibayarkan kepada pihak-pihak bank.
Jika kaya hanya diibaratkan uang saja, punya ini dan itu. Bagi keluarga kami itu tak berlaku. Kaya itu cukup dengan apa yang sudah ada, miskin itu selalu merasa kurang. Setiap perempuan pasti banyak keinginannya mau beli barang ini dan itu, tapi suamiku tak pernah melarang untuk membelinya asal tidak mubajir. Tapi, pelahan aku mulai berpikir sendiri. "Cukup sebagai kata kuncinya, aku harus belajar cukup dengan yang sudah ada. Kalau merasa kurang berarti aku kurang bersyukur, kalau aku berlebihan berarti aku rakus"
Sejak jaman nenek kita sudah mempercayai jodoh, rezeki, mati sudah diatur oleh Allah. Ya,,,sudah sekarang kita belajar percaya. Karena, Allah tidak pernah berbohong. Setidaknya, aku juga sedang berusaha menjadi mahluk yang manut pada setiap kehendakNya. Meski perkataan dan tindakan pasti gak akan mudah di samakan jalannya. Tapi, semua butuh proses. Hidup, tak hanya di dunia saja. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar