Sabtu, 24 September 2016

Tanda Tanya Hidup???

Dalam hidup selalu diliputi oleh sebuah pertanyaan seputar kehidupan kita. Terlalu banyak yang memerhatikan gerakgerik kita. Sampai tak ada lagi ruang privasi untuk menyimpan semua cerita tentang hidup kita sendiri.

Pertanyaan yang masuk kedalam hidup, mengendap dalam pikiran lalu dicerna oleh perasaan. Akhirnya, kita kepikiran lalu jadi sedih atau marah.

Hidup memang sudah ditakdirkan saling berdampingan dengan sesama. Kita begini yang lain tahu, kita begitu semua mata melirik, kita beginu ramerame menguping.

Entahlah, apakah hidup kita yang rumit apa sesama kita yang tidak memikirkan hidupnya sendiri, sehingga ia terus memerhatikan kehidupan kita?

Hidup ditengah masyarakat lalu belang sendiri selalu saja menjadi sorotan. Hal ini kualami, sejak masih tinggal bersama orangtua maupun sudah berpisah rumah. Dari ujung kaki sampai pangkal rambut diperhatikan selalu. Padahal aku sama saja seperti mereka,  tidak pernah beli pakaian dari merk ternama, sepatuku juga beli di pasar.

Ada saja yang bertanya, beli dimana?berapa harganya? kerja dimana? Cepet banget nikahnya? Udah hamil belum? Kok gak kerja?Masih panjang rentetan pertanyaan itu, jika pun dijawab tidak terlalu penting buat kehidupannya.

Sebagai Muslim, baiknya kita husnuzon saja bahwa masih ada yang memperhatikan, menasehati kita. Meski, terkadang pertanyaan itu bisa menohok perasaan sendiri.

Dari rentetan pertanyaan di atas ada satu pertanyaan lain yang kerap menempel dengan kehidupanku. Hampir empat tahun menikah masih saja berdua, otomatis jadi pertanyaan empuk bagi ibuibu.

"Kok belum isi? Coba deh makan ini atau minum vitamin itu. Kemarin sih C hamil tuh." Ya...sekali lagi senyum aja jawabannya.

Dua tahun awal agak berat memang, menghadapi serangan pertanyaan klasik itu. Capek juga kuping ngedenger semua ocehan itu. Bahkan, aku sampai berada dititik nyerah, aku mencoba saransaran mereka. Makan buah atau sayur inilah, atau perbanyak minum vitamin ini.

Tapi, aku disadarkan oleh suami, bahwa itu bisa mendekatkanku pada syirik. Aku kena tegur olehnya. Bahwa semua yang kami alami benarbenar di bawah kendali Allah.

Walaupun secara medis bisa divonis a,b,c sampai z tapi kalau Allah belum berkehendak ya tidak akan terjadi. Bahkan Nabi Zakariya pun yang istrinya sudah tua,  ternyata bisa hamil juga, karena Allah berkehendak.

Ya... Hidup memang penuh segala pertanyaan. Belum menikah, ditanyain. Sudah menikah, dicurigaiin. Belum punya anak, ditanyain. Sudah punya anak, masih ditanya lagi, dan sebagainya. Semoga kita bisa saling menjaga perasaan sesama manusia []

Selasa, 13 September 2016

Benang Merah Pemimpin Bangsa Indonesia

PADA AWAL SIDANG Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pertama yang berlangsung pada 29 Mei 1945 sampai 1 Juni 1945, Ketua BPUPKI, Rajiman Wedyodiningrat, bertanya kepada peserta sidang, “Sebentar lagi kita akan merdeka, apakah filosofische grondslag (landasan filosofis) Indonesia merdeka nanti?” Mendengar pertanyaan bernas itu, beberapa orang dedengkot sidang yang beranggotakan 50 orang tokoh kampin itu, seketika angkat bicara. Bergiliran. Satu persatu.

Tampil pada urutan perdana adalah, Mr. Muhammad Yamin, Supomo, Bung Hatta, Haji Agus Salim, Kiyai Masykur, Sukiman, dan pembicara terakhir, singa podium: Sukarno. Hari itu bertepatan dengan masa terakhir bersidang yang jatuh pada 1 Juni 1945. Kelak tanggal itulah yang kini kita peringati sebagai momen kelahiran Pancasila.

Sidang tiga hari itu berjalan dinamis sekaligus panas. Muhammad Yamin mengusulkan lima dasar yang ia sampaikan secara lisan dan tertulis: a. Perikebangsaan ; b. Perikemanusiaan; c. Periketuhanan. Sedangkan Supomo mengusulkan dasar negara haruslah dilandaskan pada: a. Paham Negara Persatuan; b. Hubungan negara dan agama; c. Sistem Badan Permusyawaratan; d. Sosialisme negara; e. Hubungan antarbangsa.

Sukarno memungkasi sidang yang alot dan sengit itu dengan pidatonya.
"Bila kita pelajari dan sungguh-sungguh" Lahirnya Pancasila " ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel (Prinsip Demokrasi—pen), suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita. Yang menjadi Rechtsideologie (ideologi yang benar—pen) negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada di bawah penilikan yang keras dan Pemerintahan Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang."

Sukarno mengajukan lima azas bagi bayi Indonesia. (1) Kebangsaan Indonesia (2) Internasionalisme, atau prikemanusiaan (3) Mufakat, atau demokrasi (4) Kesejahteraan sosial (5) Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sejatinya, apa yang disampaikan Sukarno adalah rangkuman dan sari dari apa yang telah disampaikan para pembicara sebelumnya.

Dipadupadan dengan hasil perenungan mendalam sejak ia dibuang ke Endeh pada 1934 oleh kolonial Belanda. Becermin pada riwayat ini, dapatlah kiranya jika kita sebut Rajiman sebagai bidan bagi kelahiran landasan dasar filosofis Republik Indonesia, yang bahkan hingga kini masih terus bertahan sejak 71 tahun lalu digaungkan oleh para tetua bangsa kita.
Pancasila, menurut Yudi Latif, pemikir kenegaraan Indonesia terdepan, sudah melampaui Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Sebagaimana telah ia terakan dalam diskusi buku Pancasila as The Philosopby of Life the Indonesian Nation karya Prof. M. Sudiman Kartohadiprojo di Hotel Dharmawangsa, Maret 2016.

“Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang diteken oleh 56 orang pada 4 Juli 1776, sangat homogen. Semua penandatangan adalah laki-laki, kulit putih, dan Protestan. Bandingkan dengan 67 orang anggota BPUKI. Empat keturunan Cina, satu keturunan Belanda, dan dua wanita. Dari segi agama, semua terwakili, bahkan ketua BPUPKI, Rajiman Wedyodiningrat, penganut aliran kepercayaan.

Kondisi multikultural Indonesia yang sudah berakar sebelum Indonesia merdeka juga sangat jauh bila dibandingkan dengan kondisi di Eropa, misalnya Jerman. Negara itu mengalami "krisis identitas" setelah banyak imigran Timur Tengah datang ke sana. Kanselir Jerman, Angela Merkel, sampai mengatakan multi-kulti is dead. Tapi di Indonesia multikulti sudah ada sejak negara ini berdiri. Pancasila sebenarnya analog dengan Piagam Madinah dalam tradisi Islam, karena ia mempersatukan keanekaragaman etnis dan agama di Nusantara. Piagam Madinah (Shahifatul Madinah) adalah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW pada 662 M untuk menghentikan konflik antara pelbagai suku di Madinah. Piagam itu, terdiri dari 47 pasal, memuat hak dan kewajiban bagi kaum muslimin, Yahudi, dan beragam kelompok lain di Madinah agar menjadi satu kesatuan komunitas."

Mungkin bangsa Indonesia takkan pernah merdeka tanpa diiringi semangat juang para bangsawan pikiran yang duduk di sidang BPUPKI itu. Mungkin juga kita masih akan terjajah, tersiksa, terampas haknya, bila mereka tak memeras pikiran—hari demi hari dari hidup yang telah mereka lewati. Mereka memang sangat berani dalam mengambil keputusan. Namun begitulah nuansa hidup ini. Dari sekian banyak nama pahlawan yang berjasa, ada pula sosok yang terlupa sejarah. Padahal andilnya dalam pergerakan awal kemerdekaan Indonesia, tak bisa dipandang sebelah mata. Satu di antara mereka yang mengalami perihal seperti ini adalah Dr. Rajiman Wediyodiningrat.

Nama Rajiman seolah terselip dalam tumpukan lembaran sejarah Indonesia. Mungkin generasi muda saat ini pun banyak yang tidak tahu tentang peran dan kiprah tokoh kharismatik ini. Di sebuah desa kecil Yogyakarta, pada 21 April 1879, Rajiman lahir sebagai anak seorang penjaga sebuah toko kecil di Yogyakarta, Ki Sutodrono yang menikahi seeorang wanita berdarah Gorontalo.

Perjalanan hidupnya ia tempuh dengan duri liku. Selagi kecil, ia sudah kehilangan orangtua. Dr. Wahidin Sudirohusodo merupakan salah satu sosok yang berjasa dalam hidup Rajiman. Karena prihatin akan kondisinya, ia menolong pemuda berbakat dan sarat cita itu agar beroleh pengajaran yang baik.
Meski bukan dari keluarga priyai, namun semangat belajar Rajiman sangat tinggi.

Pendidikannya dimulai dengan model pembelajaran hanya dengan mendengar di bawah jendela kelas, saat mengantarkan anak dr. Wahidin Sudirohusodo ke sekolah. Kemudian atas belas kasihan salah seorang guru Belanda, ia disuruh mengikuti pelajaran di dalam kelas. Sampai akhirnya ia lulus dari Sekolah Dokter Bumiputera STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) sebagai "dokter jiwa" pada 1898.

Setelah beberapa tahun bekerja di Banyumas, Purwerejo, Semarang, Madiun, ia meneruskan pendidikan dan menjadi asisten di STOVIA sampai lulus sebagai Indische Art (dokter pribumi). Selepas itu, ia bekerja di Sragen dan menjadi dokter sakit jiwa di Lawang, Jawa Timur. Pada Oktober 1909, ia tiba di negeri Belanda guna melanjutkan pendidikan sebagai dokter. Ia lulus pada usia 20 tahun dengan hasil cemerlang dan berhasil meraih gelar arts. Dengan demikian, kedudukan dr. Rajiman setara dengan para dokter lulusan universitas Belanda. Suatu hal yang waktu itu tidak mudah dicapai oleh seorang anak pribumi, jika tidak sungguh cemerlang kecakapan dan kepandaiannya.

Selain di Belanda, Rajiman memperdalam keahliannya di Berlin dan Paris sebagai ahli bedah, ahli ilmu bersalin, dan ahli penyakit kandungan. Pilihan belajar ilmu kedokteran yang diambilnya, berangkat dari keprihatinan ketika melihat masyarakat Ngawi saat itu dilanda penyakit pes. Begitu pun hasratnya mempelajari ilmu kandungan, demi menyelamatkan generasi ke depan. Lantaran saat itu banyak kaum ibu yang meninggal karena melahirkan.

Rajiman menjadi orang Indonesia kedua setelah WK Tehupeiory, yang berceramah di Indisch Genootschap (Indies Institute) pada Februari 1911. Setelah selesai semua pendidikannya di negeri luar, setiba di Indonesia, ia menjadi dokter istana Kasunanan Surakarta yang pertama di Solo, dan juga dipercaya menjadi dokter pengkhitan para pangeran Susuhunan Surakarta, hingga akhirnya beroleh gelar kehormatan, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Selain menjadi dokter, dr. Rajiman Wedyodiningrat juga menyalurkan ilmunya kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini terbukti dari sepak terjangnya mengajar anakanak di Dusun Dirgo yang tak bisa mengenyam pendidikan karena ketiadaan biaya.

Pengabdian Rajiman saat menjadi dokter pemerintah, memungkinkannya bersentuhan langsung dengan rakyat kecil. Kesamaan nasib semasa kecil, membuatnya mampu menangani penderitaan pasien. Melalui pendekatan budaya, ia mampu mempraktikkan ilmu pengobatan modern kepada rakyat kecil yang ketika itu masih sulit menerima. Penderitaan hidup dan keterbelakangan masyarakat pribumi kala itu, menumbuhkan jiwa kebangsaan dalam diri Rajiman—mengikuti jejak "guru besarnya" dr. Wahidin Sudirohusodo, memperjuangkan nasib pribumi tertindas.

Dalam perjalanan sejarah menuju kemerdekaan Indonesia, dr. Rajiman Wedyodiningrat adalah satusatunya orang yang terlibat secara aktif dalam kancah perjuangan berbangsa yang dimulai dari kemunculan Budi Utomo (1908), sampai pembentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI.) Manuvermya dalam memimpin Budi Utomo (1914-1915) yang mengusulkan pembentukan milisi rakyat di setiap daerah Indonesia (kesadaran memiliki tentara rakyat), dijawab Belanda dengan kompensasi membentuk Volksraad (Dewan Rakyat) pada 1918. Di sini ia duduk selama beberapa periode hingga 1931, bersama Umar Said Cokroaminoto dan Haji Agus Salim.

Pada masa kemunculan serbaneka klub studi pada 1925-an, sebagai anggota salah satu perkumpulan itu, ia memimpin penerbitan majalah tengah bulanan, Timbul (1926-1930). Di majalah ini ia banyak menulis, terutama mengenai kesenian Jawa dan kawruh (pengetahuan) Jawa. Tinggal di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, rumah Rajiman hanya berjarak 1,5 kilometer dari Stasiun Kereta Api Walikukun. Ia sering bolak-balik memanfaatkan jasa transportasi kereta api Jakarta-Ngawi demi menghadiri banyak rapat Volksraad atau pertemuan dengan tokoh pergerakan lainnya.

Ketika Jepang masuk Indonesia, Volksraad dibubarkan. Jepang berjanji bahwa Indonesia akan dimerdekakan dan kemudian pada 29 April 1945, membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) guna mempelajari dan menyelidiki halhal penting, modal besar mendirikan negara Indonesia merdeka. Pada masa pendudukan Jepang, Rajiman menduduki posisi prestius seperti menjadi anggota Syu Sangi-kai (Dewan Pertimbangan Daerah) Madiun, dan kemudian ditarik ke pusat menjadi anggota Chua Sangi-kai (Dewan Pertimbangan Pusat) dengan sebutan Gi-in atau anggota pada 1943. Setelah Putera (Pusat Tenaga Rakyat) terbentuk dan dipimpin Ir. Sukarno, ia pun duduk dalam Majelis Pertimbangan.

Rajiman juga ditunjuk menjadi ketua BPUPKI, didampingi dua orang ketua muda, yaitu Raden Panji Suroso dan Hibangase Yosio. Setelah terbentuknya BPUPKI, maka sidang pun beberapa kali dilaksanakan guna mendapatkan hasil persiapan kemerdekaan yang benarbenar sesuai dengan koridor dan ciri khas rakyat Indonesia. Beberapa pertemuan penting organisasi ini masih dalam pengawasan tentara Jepang, seperti panglima tentara wilayah 7, Jenderal Izagaki, yang menguasai Jawa, serta panglima tentara wilayah ke-16, Jenderal Yuichiro Nagano.

Namun untuk persidangan secara resmi, hanya para anggota BPUPKI saja lah yang dapat mengikuti proses acaranya. Dalam sidang pertama, dr, Rajiman selaku ketua, mencatat seluruh pertanyaan dan jawaban sebagai gambaran jalannya proses sidang. Semua tertuang jelas pada dokumen yang ada di desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, yang merupakan pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948. Beranggotakan 60 orang, tidak termasuk ketua dan ketua muda, BPUPKI menggelar sidang resmi pertama yang diadakan selama lima hari, yaitu 28 Mei sampai 1 Juni 1945. Pada kesempatan itulah dibahas dasar negara hingga titik nadirnya.

Setelah Indonesia merdeka, ia melanjutkan perjuangan mengawal negara muda ini dengan menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia. Rajiman Wedyodiningrat juga menjabat anggota DPR pada periode 1950-1952 sekali pun saat itu usianya telah lanjut. Selain menjadi tokoh kemerdekaan, ia juga dikenal sebagai seorang dokter yang mengabdikan ilmunya di Ngawi, Jawa Timur, hingga akhir hayat di desa Dirgo, Kabupaten Ngawipada 20 September 1952. Jenazah Rajiman dikebumikan di tanah kelahirannya, di Desa Melati, Sleman Yogyakarta. Berdekatan dengan makam ayah angkatnya, dr. Wahidin Sudirohusodo.
Pada Jumat (8/11/2013), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Boediono serta Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Herawati Boediono, menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada ahli waris ketiga Pahlawan Nasional, dr. Rajiman Wedyodiningrat, Lambertus Nicodemus Palar, dan Letjen (Purn) Tahi Bonar Simatupang. Gelar pahlawan nasional bagi Rajiman Wedyodiningrat diterima Dr. dr. Retno Widiowati. Pemberian gelar Pahlawan Nasional ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 68 TK 2013 yang ditandatangani Presiden RI pada 6 November 2013.

Gelar Pahlawan Nasional yang dianugerahkan kepada dr. Rajiman Wedyodiningrat berdasar  pertimbangan peran besarnya pada rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia tentang dasar negara, serta menyampaikan visi Indonesia Merdeka, meski Jepang masih berkuasa pada 1944. Dalam kondisi genting dan setegang itu, ia masih setia mengawal kelahiran bayi besarnya yang kini kita cintai sebagai Indonesia. []

Sumber Bacaan:
Harian Waspada Edisi 08 Juni 2016 Halaman B6
Majalah Gatra Edisi 04 Maret 2016 Halaman 56 dan 57
https://tirto.id/20160608-34/pancasila-bukan-dasar-negara-ri-235155
http://jogja.antaranews.com/berita/317138/radjiman-sosok-di-balik-persiapan-kemerdekaan-indonesia
http://www.kompasiana.com/romz.weepy/jejak-dr-radjiman-wedyodiningrat-di-ngawi_5519535fa333110317b659bb.
http://www.tandapagar.com/tokoh-bpupki/
http://afrizalna.blogspot.co.id/2015/11/biografi-dr-krt-rajiman-wedyodiningrat.html.

Jumat, 09 September 2016

The Grand Oldman

JIKA NAMA ADALAH DOA, Agus Salim sudah memanggul segunung doa sejak kecil. Ia lahir pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Orangtuanya memberi nama Masjhudul Haq, yang berarti pembela kebenaran. Berasal dari desa kecil di pinggiran Buktitinggi, pemikiran Agus Salim menjelma menjadi gelombang yang menyapu ke pusat dunia. Kepintarannya di atas rata-rata, terbukti ia sudah menorehkan prestasi gemilang sejak duduk di bangku sekolah dasar. Di antara kawankawan sekolahnya yang sebagian besar anak Eropa, ia tak minder, malah berpikir kritis. Kemampuannya menonjol dalam semua pelajaran, terutama penguasaan bahasa, ilmu sosial, dan ilmu pasti.

Lulus pun dengan predikat terbaik sejak pendidikan dasar hingga menengah. Dengan pendidikan dan kemampuan tinggi, Agus Salim sesungguhnya dapat hidup enak asalkan mau bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda. Tapi ia memilih jalan lain. Tinggal di rumah kontrakan hingga akhir hayatnya. Hidup sederhana tapi gembira, dan sulit mencari nafkah karena kritis terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda.

Menurut cucu Agus Salim, Agustanzil Sjahroezah, kakeknya sering pindah rumah karena ia tak kenal kompromi dan teguh memegang prinsip. Misalnya, suatu ketika kakeknya bekerja sebagai redaktur di sebuah media, tapi keluar karena dilarang menulis tentang sesuatu hal. Sikap hidup sederhana Agus Salim juga mendapat perhatian Belanda. Dalam buku hariannya, Het Dagboek Van Schermerhorn, ketua delegasi belanda dalam perundingan Linggarjati, Williem Schermerhorn, memuji Agus Salim sebagai orangtua yang sangat pintar, seorang jenius dalam bahasa, berbicara dan menulis dengan sempurna paling sedikit sembilan bahasa.

Awal Karir

Dia adalah diplomat yang cerdik dan pendebat ulung, santri kritis dan ulama yang moderat. Tapi ia juga pernah kehilangan iman dan susah payah merebutnya kembali hingga menemukan Islam untuk Indonesia: Islam yang tidak terikat adat kebiasaan tapi dapat menggerakkan bangsa untuk menentukan nasib sendiri. Berbagai peristiwa yang dialaminya dari masa penjajahan Belanda hingga Indonesia merdeka itu menempanya menjadi Haji Agus Salim.
Pada masa awal kemerdekaan, jabatan tertinggi Salim hanya menteri luar negeri. Ini pun tugas yang dipercayakan kepadanya setelah dua kali pada masa kabinet Sjahrir, ia mentok di jabatan menteri muda luar negeri. Walau demikian, sebagai penasihat dan menteri muda, perannya sama sekali tak remeh. Pada 1947, ia ikut delegasi Indonesia ke Lake Succeas, New York, untuk membela pendirian dan kedudukan Indonesia terhadap Belanda di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun yang sama, ia juga mengunjungi negaranegara Arab demi menggalang pengakuan de jure atas kemerdekaan Indonesia.

Salim tak cuma memeroleh kedudukannya di masa kemerdekaan. Ia ikut berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari cengekeraman Belanda, bahkan bekerja keras untuk itu. Sejak memilih bergabung dengan Sarekat Islam/SI pada 1915—dan melepaskan keterikatannya dengan penguasa Belanda, sumbangsih Salim jadi kian penting. Berkat pikirannya yang mereformasi pandangam dan kebiasaan usang, Sarekat Islam menjadi organisasi politik terbesar yang berasaskan Islam modern dan moderat.

Cara Salim mengajarkan pandangannya tentang Islam mengilhami, antara lain, anak muda berpendidikan Belanda seperti Muhammad Rum, Muhammad Natsir, dan Kasman Singodimejo. Dalam artikel di buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (1984), Rum menuliskan kesannya mengikuti pelajaran sewaktu menjadi anggota Jong Islamieten Bond cabang Jakarta, yang baru saja didirikan, “Berbahagia pada tahun pertama dapat menikmati beberapa pelajaran dari Haji Agus Salim. Pelajaran diberikan dalam bahasa Belanda yang baik dan jelas, oleh orang yang mampu tidak saja mengambil intisari agama, tetapi juga memberi inspirasi kepada golongan muda akan tugasnya di hari kemudian."

Memberi ilham dan memberi contoh, ini hanya sebagian dari gambaran lengkap mengenai Salim. Menurut perkataan Kasman Singodimejo berkaitan dengan mentornya itu bahwa memimpin adalah menderita, leiden is lijden. Salim merupakan pelakunya yang tiada dua. Ia tahu "risiko" jauh dari hidup yang gemerlap itu dan menjalaninya dengan lapang hati.

Kerja Diplomasi

Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir pada 10 juni 1947,  tak lepas dari tangan dingin Haji Agus Salim. Itulah pengakuan de jure pertama dunia Internasional terhadap proklamasi 17 Agustus 1945. Setelah Mesir, sejumlah negara Arab berturutan mendukung: Lebanon (29 Juni 1947), Suriah (2 Juli 1947), Irak (16 Juli 1947), Arab Saudi (24 November 1947) dan Yaman (3 Mei 1948).

Sukses di Timur Tengah, lelaki yang dijuluki the grand old man oleh Sukarno itu melanjutkan aksinya ke Dewan Keamanan PBB, di Amerika Serikat pada 10 agustus 1947. Di tangan Agus Salim, bayi Republik yang masih belajar merangkak tampil percaya diri: berdiri di panggung dunia dengan tangan mengepal. Meski menginginkan Islam sebagai dasar negara, Agus salim tidak agresif. Ia malah menjadi penengah antara kelompok Islam dan nasionalis.

Pemerintahan penjajahan Jepang di Indonesia, membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Enam puluh tujuh anggota, termasuk Agus Salim yang mewakili kelompok Islam. Mereka yang berasal dari berbagai golongan itu bahu membahu membentuk fondasi bagi negara yang akan dibentuk.

Agus salim cukup tegas menyampaikan buah pikirannya. "Wajib umat Islam menjalankan syariat, biar pun tidak ada Indonesia Merdeka, biar pun tidak ada hukum dasar Indonesia. Itu adalah satu hak umat Islam yang dipegangnya...," ujar Salim. Kendati demikian, ia tak agresif dan tak sengotot tokoh Islam lain, seperti Abikusno dan Abdulkahar Muzakir. Dalam sidang kedua pertengahan Juli 1945, Abdulkahar bahkan sempat memukul meja. Dalam Hadji Agus Salim: Pahlawan Nasional, dikatakan sikap Salim lebih tenang. Saat terjadi perdebatan seru antara golongan Islam dan nasionalis, ia sering bertindak sebagai penghubung.

Itulah kenapa dalam sidang tersebut, ketua BPUPKI, Rajiman, meminta Agus Salim duduk di panitia kecil untuk rancangan hukum dasar. Pria yang pernah memimpin redaksi beberapa surat kabar itu juga duduk sebagai anggota panitia penghalus bahasa dalam rancangan undang-undang. Ia menjalankan tugasnya sebagai penghalus bahasa bersama Supomo dan Prof Dr. P.A.H Jayadiningrat. Kepiawaiannya dalam urusan bahasa ini memang tak meragukan. Ia menguasai sembilan bahasa asing antara lain Belanda, Inggris, Prancis, Arab, Jerman, dan Turki. Agus salim juga pernah diminta oleh Jepang membuat kamus istilah kemiliteran.

Pada siang 8 Desember 1947, Agus Salim menjadi anggota delegasi yang dipimpin Amir dalam perundingan dengan Belanda di geladak kapal perang Amerika Serikat, USS Renville. Mereka mempersoalkan Indonesia yang beberapa bulan terakhir bergerilya mencari pengakuan kedaulatan ke negaranegara arab.
Sorotan paling tajam mengarah ke Agus salim, Menteri Luar Negeri kabinet Amir Sjarifuddin. Bahkan sejak menjabat wakil menteri luar negeri Kabinet Syahrir II, Salim merupakan lakon utama misi diplomasi Indonesia ke dunia Internasional. Berkat kedatangannya dengan Liga Arab, Salim membuka jalan bagi delegasi Indonesia untuk mengikuti sidang Dewan Keamanan PBB di Lake Success, New York, Amerika Serikat, 19 Agustus 1947.

Karena tidak ada titik temu, pada hari kedua perundingan, Amir Syarifuddin, Agus Salim, dan semua anggota delegasi Indonesia turun dari kapal. Di tengah ketegangan, Agus Salim tetap tenang dan jenaka. Disela perundingan di atas USS Renville itu, ia merasa kehausan dan segera meminta air es. "Hampir saya jatuh pingsan," katanya kepada pelayan kapal, seorang perempuan Amerika Serikat. Pelayan menyahut, "Kalau nanti tuan jatuh pingsan. Tentu tuan akan saya peluk." Agus Salim cepat membalas, "Buat apa dipeluk kalau saya sudah pingsan!" 

Dunia Politik

Dalam situasi Perang Dunia I pada agustus 1914, Agus Salim yang baru menikahi Zainatun Nahar di Koto Gadang, tiba di Jakarta. Ketika itu tahun 1915, ia tidak punya kerjaan. Meski demikian ia cukup dikenal karena pernah bekerja untuk dinas pekerjaan umum pemerintah Hindia di Jakarta. Teman sekolahnya, Datuk Tumenggung, menawari pekerjaan sebagai telik sandi. Saat Salim diminta memata-matai Haji Umar Said Cokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam (SI). Ia malah kepincut pada organisasi massa itu. Kecerdasan serta pengetahuan agamanya yang tinggi membuat ia lekas menjadi kepercayaan Haji Umar Said Cokroaminoto. Pada kemudian hari, keduanya dikenal sebagai dwitunggal. Salim lah yang menggagas gerakan disiplin partai untuk mengusir anasir komunis dari SI. Ia ikut membidani salin wujud SI menjadi partai dan menjadi pucuk pemimpin partai Sarekat Islam Indonesia setelah Cokroaminoto meninggal.

Rentang usia yang jomplang membuatnya dijuluki “Oude Heer” atau Sang Lelaki Tua. Agus Salim hadir bak bidan untuk kelahiran banyak cendekiawan Islam Indonesia. Kebiasaan mengasyikkan bagi Muhammad Rum, Kasman Singodimejo, Suparno, serta banyak aktivis belia di awal berdirinya Jong Islamieten Bond (JIB)—organisasi gerakan pemuda berideologi Islam pertama di Indonesia pada 1925, saat mengunjungi rumah Agus Salim—penasihat JIB sekaligus guru agama Islam bagi Rum dan kawan-kawan, adalah disambut ramah, hangat, dan Agus Salim memperlakukan mereka seperti teman setara, hampir tak ada strata.

Di rumah orangtua yang diberi julukan Grand Old Man lantaran jasa dan kepiawaiannya berdiplomasi, Rum dan para cendekiawan Muslim lain memang kerap mendapat pencerahan. Persentuhan Salim dan JIB, bermula pada sebuah kongres tahunan Jong Java di Yogyakarta, Desember 1924. Has—salah satu panggilan akrab Agus Salim saat itu diundang menghadiri pembukaan kongres pemuda Jawa yang ketujuh.

Salim merupakan pemberi dorongan, bukan macam orang yang hanya memberi petunjuk pelaksanaan. Ia berupaya memperluas ufuk pandangan lewat transformasi pengetahuan agama dan umum secara luas. Salim tak pernah memandang generasi muda sebagai tanah liat yang bisa sekehendak hati ia bentuk. Hasrat Salim menularkan pemikirannya tentang agama Islam tersalurkan dengan berdirinya JIB. Ia dan para aktivis muda saling mengisi dalam upaya menguak segala macam teka-teki pengetahuan dari sudut pandang Islam. Dari diskusi dan tulisannya, ia membebaskan pikiran para aktivis belia itu.

November 1919 menjadi saat istimewa dalam perjuangan politik Haji Agus Salim. Waktu itu, ia secara resmi ditunjuk menjadi komisaris central Sarekat Islam (CSI). Bukan tanpa maksud bila Cokroaminoto akhirnya memunculkan Salim. Karena Cokroaminoto sedang berhadapan dengan Semaun, Darsono dan teman-temannya, Salim menjadi amat penting. Para tokoh Sarekat Islam (SI) Semarang berhaluan komunis itu terus menerus merongrong kepemimpinan Cokroaminoto. Aksiaksi yang dilakukan cabang SI di daerah-daerah tak bisa dikontrol CSI—membuat Belanda marah.

Nah, Salim yang diketahui Cokroaminoto dekat dengan beberapa pejabat Hindia Belanda diharapkan bisa “menjinakkan” sikap tuantuan penjajah itu. Salim diberi tugas mengatur serikat buruh, ia punya kedekatan tersendiri dengan serikat buruh. Pada 1930, lama setelah konflik dengan Semaun selesai, Salim diminta Nederlands Verbond dan Vakverenigingen menjadi penasihat dalam sidang biro internasional perburuhan untuk membicarakan soal penghapusan sanksi kontrak buruh.
Keandalan Salim terbukti manakala ia merumuskan gerakan disiplin partai. Anggota SI dilarang merangkap menjadi anggota organisasi lain. Kebijakan itu akhirya menyingkirkan kelompok komunis dari SI. Sejak itu, posisi Salim di antara elite pemimpin CSI makin kuat.

Dunia Islam

Pendidikan Barat telah menjauhkan Agus Salim dari Islam. “Saya mulai merasa kehilangan iman,” katanya. Pertemuan dengan pamannya, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang jadi imam Mazhab Syafii di Masjidil Haram, Makkah—pada masa itu masih jadi tujuan para calon ulama Indonesia, dan perkenalannya dengan pemikiran Islam modern telah mengembalikannya kepada Islam. Agus Salim pernah berguru padanya selama ia bekerja di konsulat Belanda di Jeddah pada 1906. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari juga pernah berguru padanya. Kendati sama berguru, Agus Salim sebagai pemikir Islam dikenal lebih bebas ketimbang Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari.
Dahlan dan Agus Salim memiliki kesamaan dalam menampilkan Islam. Keduanya sama menjadi anggota Muhammadiyah dan Sarekat Islam. Dahlan resmi menjadi anggota Sarekat Islam sejak berdiri pada 1910 dan Salim lima tahun kemudian. Dakwah Dahlan lebih menggiatkan puritanisasi Islam, seperti memerangi praktik takhayul, bidah, dan khufarat. Agustanzil Sjahroezah, cucu Salim, mengatakan, dalam berdakwah kakeknya memilih mendekati Muslim yang berlatar pendidikan Eropa. Tujuannya, supaya mereka kembali Islam dan ke Indonesia.”

Meski memiliki guru yang sama, Agus Salim jarang bertemu dengan Dahlan dan Hasyim. Karena keduanya banyak bermukim di daerah. Namun, Agus Salim pernah berpesan ketika kedua teman seperguruannya itu membangun pesantren. “Ajari santrimu agar jangan mendewakan guru hingga melupakan Nabi Muhammad Saw.”

Bagi Salim, Islam adalah agama yang damai dan rasional. Pada usia 69 tahun, Salim seperti menemukan kearifannya memandang agama. Perjuangannya bersama tokoh lintas bangsa dalam memerdekakan Indonesia membuatnya memiliki pandangan yang luas soal agama. Islam, dilihat dari kacamata Agus Salim adalah agama yang lapang.

Menarik diri dari politik, Agus Salim aktif berceramah agama di radio Hindia Belanda. Kadang mendapat pesanan menerjemahkan lagu koboi. Salim aktif di NIROM pada 1939-1942. Di radio yang menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia itu, ia menjabat sebagai penasihat bagian ketimuran. Agama dan budaya menjadi tema utama ceramahnya. Ia selalu bertumpu pada kekuatan bahasa, kefasihan pengucapan, serta nalar. Salim selalu menghindari persoalan khilafah, perbedaan fikih. Tapi urusan salim di NIROM tak  melulu ceramah. Ada kalanya ia menerima pekerjaan menerjemahkan lagu yang sedang kondang saat itu. Sejak mendirikan pergerakan penyadar, Salim memilih berpaling ke persoalan agama dan menyorongkannya kepada publik lewat radio

Dunia Tulis

Sebagai kepala redaksi Neraca—debut Salim dalam pengelolaan koran, ia rutin menerbitkan tulisannya di koran yang menjadi corong Sarekat Islam itu. Ia menerapkan prinsip dasar dalam pekerjaannya. Hal itu tecermin dari cara ia mengelola surat kabarnya. Agus Salim pernah menjabat pemimpin redaksi Hindia Baru, tapi ketika harian itu sedang menanjak pamornya, ia melepaskan semua karena sikap kepala batunya yang menginginkan kebebasan penuh dalam mengelola. Hal serupa juga terjadi ketika ia memimpin Neraca. Ia menolak tawaran subsidi pemerintah Belanda dalam wujud pembelian beberapa ribu eksemplar koran itu. Penolakan itu harus ia tebus dengan berhenti.

Penulis, pemikir, penerjemah, pendongeng, juga khatib shalat Jumat. Agus Salim dijuluki hatta sebagai seorang generalis. Biasanya Salim menghabiskan waktunya untuk menulis artikel surat kabar, menyusun pidato, atau menyiapkan khotbah Jumat ketika tak ada tamu yang datang. Sebagai pemimpin Sarekat Islam, nama Agus Salim sudah tersohor. Dalam sehari, Salim bisa merampungkan tiga tulisan sekaligus. Meskipun ada mesin ketik, tak jarang Salim menulisnya dengan tangan. Hatta mengatakan Agus Salim sesungguhnya bukan sosok yang penuh disiplin dalam mengikat gagasannya. Salim, kata dia, tak punya kesabaran yang panjang.

Produktivitas salim dalam menulis semakin lengkap dengan penguasaannya dalam banyak bahasa. Dengan penguasaannya itu, Salim rajin menerjemahkan banyak buku asing ke bahasa Indonesia. Bukan hanya buku teks, Salim juga menerjemahkan buku-buku sastra karya William Shakespeare. Juga kumpulan fabel karangan Rudyard Kipling, The Jungle Book, yang kemudian diterjemahkan Salim dengan judul Cerita Mowgli, anak didikan rimba, yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1934.

Nampaknya Salim memang dianugerahi kefasihan berbicara dalam banyak bahasa. Ini ia tunjukkan saat duduk di bangku Europeesche Lagere School. Salim diminta tinggal bersama keluarga Belanda. Cara inilah yang membuat salim sangat luwes berbahasa Belanda tanpa aksen. Ia juga mendapat posisi istimewa dalam perkembangan gerakan modern Islam di Indonesia. Sebagai sumber referensi, mereka mengandalkan karya-karya tafsir dalam bahasa Belanda dan Inggris. Inilah yang membedakannya dengan Haji Umar Said Cokroaminoto. Salim punya akses yang luas terhadap sumber bacaan berbahasa Arab. Setelah tidak lagi menjabat di pemerintahan, Salim tetap aktif menulis, baik untuk majalah maupun surat kabar harian. Pada saat Salim wafat pada 1954, pelbagai tulisannya yang tersebar di banyak terbitan kemudian dibukukan dalam Jejak Langkah Haji Agus Salim oleh Penerbit Tintamas. Sepanjang usianya, Salim telah menghasilkan 22 buku dan menerjemahkan 12 buku asing—termasuk dua karya William Shakespeare. []

Sumber Bacaan:
Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik. KPG: Jakarta, 2013.
Pesan-Pesan Islam (Rangkaian Kuliah Musim Semi di Cornell University, Amerika Serikat). Mizan: Bandung, 2011.

Jumat, 02 September 2016

Mengenal DIA

KETIKA merasa cinta sama lawan jenis dan timbul rasa ingin bersamanya. Segala cara untuk mengenalnya pasti kita lakukan, mengintip akun sosial media dan mengikuti segala kegiatannya agar mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Lalu, bagaimana dengan mengenal yang menciptakan kita? Bukankah kita harus tahu juga?

Aku rasa setiap orang pasti mau mengenalnya, karena jalannya selalu buntu alhasil putar balik dan menunggu sampai ada yang membantu melewati kebuntuan itu. Sama seperti yang ku alami empat tahun silam.

Allah adalah raja diraja, ia menguasai semuanya tanpa batas waktu, ia tidak pernah membutuhkan apapun dan siapapun, segala sesuatu tunduk dan bergantung pada Allah. Ketika Allah sudah berkuasa semua dikendalikan secara adil. Ia bia memuliakan dan menghinakan orang yang Dia kehendaki, karena di tangan Allah segala kebijakan.

Seringnya, kita malah marah kenapa jalan hidup kita menjadi terpuruk. Tak pernah merasakan kebahagiaan, selalu merasa menjadi orang rendah, padahal manusia diciptakan dengan segala kesempurnaan dibanding mahluk ciptaan Allah yang lain. Apa yang baik menurut kita belum tentu buatNya. Kita begitu sok tahu akan hidup ini, terlalu mendikte Allah.

Sejak Allah menciptakan kita, segala sesuatunya sudah disiapkan. Bumi dengan pemandangan yang indah, panas dan hujan, matahari dan bulan, dan nikmat lainnya yang Allah berikan sebagai bentuk kasih sayang pada mahlukNya. Agar kita senantiasa ingat dan bersyukur atas semua yang sudah diberikan oleh Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Tetapi kadang kala manusia suka lupa untuk berbaik sangka selalu kepadaNya. Kita terlalu sering meminta kepadanya. Ketika musibah datang, hidup terasa sulit, mulai kita lupa dan seolah-olah berpikiran kenapa Allah melakukan semua ini? Padahal Allah selalu memaafkan segala kesalahan mahluk yang terus-menerus dilakukan.

Sejak terlahir ke dunia menjadi bayi yang lucu hingga berujung pada waktunya "berpulang" Allah selalu menjaga dan mengawasi kita, karena Dia Maha Meliputi segala sesuatu-- pikiran, hati, apapun yang kita sembunyikan dari sesama manusia Allah akan tahu karena yang ada di langit dan bumi, kepunyaanNya.

Semua memang tidak bisa dinalar pakai logika, Allah berandil besar dalam keberlangsungan hidupku sejak masih dalam alam ruh-- meloloskan dari ribuan sperma bapak menuju sel telur ibu dan terbentuklah aku. Tak ada yang terjadi dalam fisik maupun spiritual ku, tak ada nafas yang terganggu dan berhenti tanpa sepengetahuan Allah.

"Ya Allah, izinkan aku jadi bagian dari rencana-Mu yang agung"