Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Agustus 2016

Mendekap Waktu

TAK ada lagi sinar mentari menghiasi langit, gemerlap bintang sudah sirna. Awan gelap terus-menerus berkeliling menurunkan petir lalu menyambar tanah hingga terbelah dua. Segala yang indah kini berubah menjadi suram. Semua kenangan yang lindap oleh waktu mulai bekejaran menuntutku. Setiap kata yang pernah kujanjikan, mencariku. Aku takut, tak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Sebegitu banyakkah waktu yang kumungkiri.

Buliran keringat membanjiri seluruh tubuhku. Nampaknya malam ini begitu panjang. Mimpi aneh belakangan ini kerap menghantuiku. Padahal, segala ritual doa sebelum tidur sudah kurapalkan. Tetapi lagi-lagi mimpi tentang waktu yang berubah wujud menjadi monster menyeramkan, selalu muncul bagaikan cuplikan film pendek.

Aku menikmati paparan sinar matahari yang masuk lewat lubang udara di kamar, sambil mengecek pesan di telepon genggam, aku diingatkan oleh janji yang sudah dibuat tujuh hari sebelumnya, bertemu denganmu. Saat itu. Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, sedangkan janji kita satu jam lagi.

Gegara mimpi buruk itu, aku jadi sering bangun kesiangan. Kalau sudah begitu semua kegiatan terasa berantakan. Semua agenda yang sudah kutulis jadi kacau---tak pada tempatnya.  Aku menjadi perhitungan dengan waktu. Orang terdekatku pasti mafhum dengan kondisi ini. Aku tak pernah mau datang atau menjalani waktu serba dadakan. Semua yang kujalani harus sesuai kemauanku.

Karena sudah terlambat aku tak sempat membelikanmu bunga mawar merah yang empat tahun silam menjadi saksi percintaan kita. Semoga kau masih mengingat, awal mula durimu mulai menusuk sanubariku, sampai membuat raga ini tak bisa terlalu jauh berlari.

Di Kota Kembang kita banyak meneroka cerita bersama. Menyelam ke dalam dasar diri masing-masing. Aku gagal menahan diri dari tatapan matamu. Kau selalu mampu membuatku jatuh dan terbangun lagi. Perjumpaan sederhana di toko bunga milik keluargamu tak kusangka, akan berujung purnama hati kita. Berlayar bersama, meski sering badai menghantam layar dan terobek, tapi dengan sabar kau mau menjahitnya lagi.

Sudah ratusan purnama berlalu. Aku hampir lupa bagaimana rupamu. Kau menghubungiku saat toko bungamu bangkrut, setahun setelahnya. Lantas. Setelah itu kau berkelana hingga Timur Jawa tanpa pernah memberi kabar. Kau tak tahu bagaimana aku kepalang melekat dengan tubuhmu. Aku rindu aroma mawarmu.

Dua hari silam, pesan masuk ke dalam email-ku. Seperti biasa, kau pintar sekali memainkan kata-kata. Sialnya, aku selalu senang terjebak di dalamnya. Pagi ini, kita akan duduk berhadapan, saling menuntut janji yang pernah diikrarkan dulu.

Semua masih tentang masa lalu. Sejak kau pergi, aku selalu tak ingin waktu berlalu dengan cepat. Aku menjaganya, agar ia tak akan ke mana-mana. Aku menganggap  waktu adalah kamu yang berubah wujud. Awalnya menemaniku. Namun pelahan kau pergi tanpa permisi. []