Dalam hidup selalu diliputi oleh sebuah pertanyaan seputar kehidupan kita. Terlalu banyak yang memerhatikan gerakgerik kita. Sampai tak ada lagi ruang privasi untuk menyimpan semua cerita tentang hidup kita sendiri.
Pertanyaan yang masuk kedalam hidup, mengendap dalam pikiran lalu dicerna oleh perasaan. Akhirnya, kita kepikiran lalu jadi sedih atau marah.
Hidup memang sudah ditakdirkan saling berdampingan dengan sesama. Kita begini yang lain tahu, kita begitu semua mata melirik, kita beginu ramerame menguping.
Entahlah, apakah hidup kita yang rumit apa sesama kita yang tidak memikirkan hidupnya sendiri, sehingga ia terus memerhatikan kehidupan kita?
Hidup ditengah masyarakat lalu belang sendiri selalu saja menjadi sorotan. Hal ini kualami, sejak masih tinggal bersama orangtua maupun sudah berpisah rumah. Dari ujung kaki sampai pangkal rambut diperhatikan selalu. Padahal aku sama saja seperti mereka, tidak pernah beli pakaian dari merk ternama, sepatuku juga beli di pasar.
Ada saja yang bertanya, beli dimana?berapa harganya? kerja dimana? Cepet banget nikahnya? Udah hamil belum? Kok gak kerja?Masih panjang rentetan pertanyaan itu, jika pun dijawab tidak terlalu penting buat kehidupannya.
Sebagai Muslim, baiknya kita husnuzon saja bahwa masih ada yang memperhatikan, menasehati kita. Meski, terkadang pertanyaan itu bisa menohok perasaan sendiri.
Dari rentetan pertanyaan di atas ada satu pertanyaan lain yang kerap menempel dengan kehidupanku. Hampir empat tahun menikah masih saja berdua, otomatis jadi pertanyaan empuk bagi ibuibu.
"Kok belum isi? Coba deh makan ini atau minum vitamin itu. Kemarin sih C hamil tuh." Ya...sekali lagi senyum aja jawabannya.
Dua tahun awal agak berat memang, menghadapi serangan pertanyaan klasik itu. Capek juga kuping ngedenger semua ocehan itu. Bahkan, aku sampai berada dititik nyerah, aku mencoba saransaran mereka. Makan buah atau sayur inilah, atau perbanyak minum vitamin ini.
Tapi, aku disadarkan oleh suami, bahwa itu bisa mendekatkanku pada syirik. Aku kena tegur olehnya. Bahwa semua yang kami alami benarbenar di bawah kendali Allah.
Walaupun secara medis bisa divonis a,b,c sampai z tapi kalau Allah belum berkehendak ya tidak akan terjadi. Bahkan Nabi Zakariya pun yang istrinya sudah tua, ternyata bisa hamil juga, karena Allah berkehendak.
Ya... Hidup memang penuh segala pertanyaan. Belum menikah, ditanyain. Sudah menikah, dicurigaiin. Belum punya anak, ditanyain. Sudah punya anak, masih ditanya lagi, dan sebagainya. Semoga kita bisa saling menjaga perasaan sesama manusia []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar