HARI ini aku dapat kesempatan untuk mengunjungi salah satu peninggalan sejarah pada jaman Sukarno berjuang, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.
Untuk tiket masuknya sendiri perorang 15.000 dan kendaraan lain lagi harganya, kemarin aku menggunakan motor dikenai biaya 6.000.
Kereta Luar biasa milik Presiden Pertama Indonesia ini disimpan di Museum Transportasi. Oh...iya, untuk masuk ke museum dikenai biaya lagi 5000/orang. Dari pintu masuk sudah terlihat jelas renteran gerbong kereta tersebut, berdiam berjajar bersatu dengan kesepian.
Ada beberapa orang yang peduli ada pula yang datang kemudian berlalu begitu saja, hanya menikmati keindahan tempat itu untuk keperluan fotografi saja.
Semua yang terjadi pada orang-orang itu tak pernah ada yang salah, aku tak bisa menghakimi semata. Kalau saja, suamiku tak memperkenalkan siapa itu Sukarno dan bagaimana perjuangan beliau, mungkin aku juga berada diposisi mereka.
Pertama kali melihat wujud Kereta Luar Biasa itu, bulu kuduk langsung merinding. Melihat saksi bisu yang membantu Bung Karno dan Bung Hatta melarikan diri ke Jogja dari incaran tentara sekutu, pada 3 Januari 1946. Momen itu tidak bisa dijelaskan pakai kalimat sebanyak apapun, semua bercampur aduk dalam perasaan. Senang, sedih, bingung, kagum dan sebagainya.
Kami mencoba mengabadikan dengan berfoto di dekat tempat Bung Karno mengulurkan kepalanya menyapa rakyat Indonesia setibanya di Jogjakarta.
Sesekali, aroma sedap malam terhirup hidungku, mungkin Bapak datang menghampiri kami, senang melihat generasinya masih ingat dengan perjuangannya.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar