Kamu bagiku tak hanya perkara kehadiran.
Melampaui itu, juga cinta dan kerinduan
SEMUA dimulai ketika Aku menikah di usia muda. Ini bukanlah hal mudah, banyak yang harus di pelajari, tetapi bukan berarti menikah muda perlu ditakuti. Buktinya, Aku. Anak ingusan, Anak rumahan, duniaku hanya rumah dan kampus, tak pandai bergaul, tak bisa memutuskan segala sesuatu, malah diberi kesempatan besar oleh Allah.
Awal Januari 2012. Aku menganggap dewi keberuntungan sedang hinggap dalam kehidupanku. Baru saja hari baru dimulai, banyak kabar bahagia berdatangan satu persatu. Pertama, pekerjaanku sebagai pemandu tur sekolah, laris manis; kedua, bertemu dengan Khatulistiwamuda—ini bukan berlebihan, tapi saat aku bisa duduk bareng mereka aku merasa menemukan yang selama ini aku cari. Malah kubela-belain meninggalkan tugas dan hilang begitu saja dari organisasi sebelah. Ketiga, aku dianugerahi hadiah—yang adalah pendiri dari organisasi baru yang kuikuti itu.
Hanya dalam rentang limapuluh hari kami saling mengenal, tetiba ia mengajakku untuk menemani hidupnya. Latar belakangnya yang pernah menikah tak pernah aku urus-urus, bahkan saat ia menceritakan semuanya padaku, aku hanya bisa mendengar secara saksama. Pikiranku malah polos saja. Beruntung aku dianugerahi kepolosan. Semua yang sudah kualami sejauh ini, adalah hadiah istimewa dari Allah. Aku belum meminta saja sudah diberi. Terpikir menikah saja belum. Aku hanya memikirkan hari ini. Sebab daya jangkau pikiranku hanya merentang sepanjang satu hari saja.
Menikah dengan orang yang belum lama kukenal, sama dengan mengisi soal ujian tanpa belajar. Bahkan bagaimana kebiasaannya, apa kesukaanya saja aku tak tahu. Modal yakinku saat itu, aku merasa senang dan nyaman jika berdekatan dengannya, sesederhana itu saja.
Meski aku seperti mendapat durian runtuh, namun banyak yang belum kusiapkan. Aku masih tak tahu harus bagaimana. Tak ada yang bisa dibanggakan dariku. Aku tidak bisa masak, tak bisa mencuci pakaian, tak becus mengurus perabotan dapur, apalagi menata rumah tangga.
Alhasil, dalam rentang waktu sembilan bulan aku langsung kursus kilat memasak lewat internet atau langsung sama mama, karena ia gemar sekali makan masakan rumah. Setiap makanan yang kubuat, langsung kufoto dan kirim kepadanya, biar dia senang dan tidak menyesal memilihku.
Apalagi ia banyak menceritakan tentang pengalaman masa lalunya bersama mantan istrinya, tentang bagaimana perempuan harus bersikap. Aku tak tahu itu kode atau bukan, yang kutangkap, ia memintaku bisa seperti itu. Bisa menjadi istri yang menyenangkan dan memahami suaminya.
***
Maafkanlah aku yang telah begitu yakin mencintaimu.
Maafkanlah atas segala kealpaan dan kelemahanku mencintaimu
AKU merasa banyak menyesuaikan diri, belajar menyekolahkan perasan sendiri. Biar cemburu tapi yang elegan. Apalagi kawan kerjanya rerata wanita cantik dan pintar, sedangkan aku? Baca buku saja tidak. Dari situ aku sempat khawatir, apakah kami akan nyambung saat sudah bersatu. Topik apa yang harus kusuguhkan? Aku khawatir tak bisa jadi penyeimbangnya. Meskipun sejauh ini ia selalu sabar menurunkan derajatnya ketika bersamaku. Ia tahu daya jelajah pikiranku tak luas, maka dari itu ia tak akan berbicara hal yang rumit jika kami sedang berdua.
Selama proses menjelang pernikahan, aku mendapat banyak wejangan dari ibu mertua. Beliau mengingatkanku tentang jenis pria yang aku nikahi bukan pada umumnya. Kedua kakinya ada dimana-mana, dan ia dibutuhkan orang banyak. Aku akan lebih sering sendiri, tak bisa rutin liburan atau jalan ke pusat belanja--malah sekarang ia lebih sering mengajakku berkunjung ke maqbarah para aulia. Ia lebih suka baca buku dan hal-hal berbau kemanusiaan.
Berat memang, hidup lebih banyak berteman dengan kesendirian. Apalagi di usia ku yang masih banyak inginnya teriba harus menekan semua itu, karena aku tak bisa berbuat sesuka hati. Kenapa Allah menitipkan amanah sebegini besar kepadaku? Bagaimana aku harus mengurus pria yang “susah diatur” seperti Reno. Padahal mengurus diri saja aku belum becus.
Sembilan November dua ribu dua belas pukul dua siang, ijab-qabul terlaksana. Aku larut dalam haru manakala mendengar papap menikahkan kami. Melepasku. Sejauh ini, yang aku tahu ia jauh sekali dengan kami, ia cuek. Tetapi hari itu aku sadar, bahwa ada perasaannya yang tercoreng, dua anak perempuannya sudah ia nikahkan. Aku tahu pasti ia merasa kehilangan meski tak mengucapkannya. Kini, ia jauh berbeda. Ia selalu merindukan anak-anaknya pulang ke rumah. Walaupun saat kami bertemu ia lebih banyak diam. Aku tahu, itu hanya di permukaan. Hatinya tetap saja emas. Tetap membungah.
Alhamdulilah. Pernikahanku menerbitkan banyak perubahan untuk Papap. Ia bisa melepas anaknya. Berbeda sekali dengan Mama, yang masih saja sedih walaupun sudah berselang tujuh hari dari pernikahanku. Dulu, Reno pernah berpesan padaku, “Maafkanlah kedua orangtuamu itu...” Ya, aku memang sempat membenci Papap karena sikapnya yang keras dan cuek. Aku peribadi nyaris tak merasakan perannya di rumah. Reno juga berpesan padaku tentang Mama, “Coba cuci kedua kaki Mama, terus mintalah maafnya.” Aku menurut.
Setelah kulakukan, kami malah nangis bersama. Segala yang kurasa sebagai aib, kuakui di hadapannya. Sejak saat itu, hidupku pelahan berubah. Semua proses berjalan mudah. Mungkin karena hatiku sudah lapang, melepas masa lalu kelam dalam kehidupan dan mengikhlaskan perbuatan orangtuaku pada kami, anak-anaknya. Aku sudah bisa menghapus semua kesalahan mereka.
Awal menikah, kami tinggal di rumah kontrakan tiga petak, dengan rak buku, karpet gulung, dan satu bantal. Alhasil kalau tidur kami harus berbagi kepala. Rumah kami masih kosong sekali, belum terlihat seperti tempat tinggal pada umumnya. Piring dan gelas saja terbatas tak lebih dari lima buah. Kompor belum ada, apalagi televisi dan mesin cuci. Baru di umur pernikahan setahun aku bisa punya kasur springbed yang empuk, dan nggak bikin badan sakit lagi. Rasanya senang bukan main seperti anak kecil dikasih hadiah kasur oleh suami tercinta.
Aku merasa beruntung semasa masih tinggal bersama orangtua banyak tak punya dan menerima terus apa yang dikasih. Agar bisa nongkrong bersama teman-teman di _mall_, aku harus membuat puding untuk dijual dulu, dan hasilnya masih saja tak cukup untuk membeli makan dan minum di restoran. Dari situlah, aku lebih memilih diam di dalam rumah saja sehabis pulang sekolah atau kuliah. Aku tak mau memaksa diri sendiri dengan melihat barang-barang yang tak mampu terbeli.
Dulu aku merasa jadi manusia paling sedih. Kenapa hidupku seperti ini, untuk membeli baju bagus saja harus banyak bersabar. Mau jejalan saja susah. Paling jauh ke Bogor saat lebaran. Sekarang aku tahu jawabnya. Allah sedang mendidikku untuk menerima apa yang ada.
Hal ini terasa betul sekarang, Membuatku tak banyak menuntut pada Reno. Ada dan nggak ada sesuatu hal itu, tidak apa-apa. Kendati setelah menikah, hampir semua keinginanku yang dulu tak pernah terwujud, kini berubah nyata. Aku bisa punya telepon genggam canggih, punya sepatu bagus, naik pesawat, naik mobil, plesir keluar kota, bisa beli makanan yang aku suka, bisa ke salon dan sebagainya. Semua nikmat dari Allah itu, bagaikan hadiah kejutan yang tak terhingga.
***
Pendengaranku mengenal baik angin yang mengirim suara langkah kakimu kepadaku
SEJAK mendampingi Reno hampir empat tahun, banyak sekali lika-liku. Aku sendiri tak percaya, hal yang dulu sempat kukhawatirkan ternyata telah terlewati. Ia termasuk tipikal orang yang "gila" kerja, jam kerjanya bisa 32 jam sendiri. Kalau aku terus-terusan marah dan menuntut waktunya untukku bagaimana ia bisa bekerja? Kalau bukan diri sendiri yang mengingatkan, siapa lagi? Aku tak mau mengulangi kesalahan orangtuaku dulu. Setiap rumah tangga selalu ada saja yang diributkan. Mengalah bukan jalan keluar satu-satunya. Kesadaran dan kesabaran juga diperlukan. Perempuan tak selalu benar, dan laki-laki tak selalu salah.
Pelajaran baru yang ku petik semenjak menikah, aku jadi belajar mengalah. Semua kehendak kita tak bisa dipaksakan untuk terjadi. Aku lebih banyak diajari oleh Allah dengan kesendirian. Keadaan sering ditinggal Reno di awal menikah, memang sulit. Perempuan mana yang mau jauh dari orang yang ia kasihi. Sebab ia pasti ingin berada terus didekatnya. Aku pun begitu. Semula tiga hari. Lalu lima hari. Bertambah jadi satu minggu bahkan pernah hampir satu bulan.
Ketika kami dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer sampai beda pulau, memberiku pelajaran tentang arti melepas kemelekatan. Kami jelas takkan terus bersama. Ia hanya titipan dari Allah yang harus aku jaga dan rawat, selaik anak. Sebab aku adalah pengganti ibunya. Ibu kita, pasti akan melakukan yang terbaik. Reno adalah anak pertamaku, tingkahlakunya terkadang mirip seperti anak-anak. Ketika sudah mulai menulis, semua buku diturunkan. Sudah lelah, ia berangkat tidur. Kadang saking lelahnya, buku-buku itu masih berantakan dilantai. Bahkan ia sering tertidur dengan kondisi laptop yang belum dimatikan. Begitulah aku belajar memosisikan diri dan merawatnya. Kebersamaan kami adalah belajar. Entah itu dari buku-buku yang ia punya, atau belajar dari kesalahanku sendiri.
Aku sadar, hidup yang dijalani Reno tak mudah. Ada tanggung jawab cukup besar yang ia emban. Dipundaknya banyak yang menggantungkan harapan dan masa depan. Caraku membantunya, berusaha terus memberikan yang terbaik, sedari urusan makan, minum, atau pakaian yang akan ia gunakan. Ketika melepas ia pergi, saat bersamaan aku harus merelakan apa pun yang akan terjadi padanya. Aku hanya bisa berdoa, ada Allah yang menjaganya. Kalau itu memang pertemuan terakhir kami, setidaknya kami tutup dengan manis. Meski airmata akan berlinang, tapi itu adalah tanda cinta yang tak lekang oleh zaman.
***
Aku ingin mencintaimu dalam kebenaran abadi.
Aku, hanya faqir sejati yang terus mencari air di padang dahaga.
Mengais rindu dalam kelam malam.
SELAIN dianugerahi keindahan, perempuan juga diberikan sifat pencemburu oleh Allah. Dalam berkeluarga, hal yang sulit dan belum bisa kuatasi adalah mengolah rasa cemburu. Baik dengan perempuan maupun waktu. Kadang aku hanya bisa memendam sendiri saja dan mencari-cari tahu. Itulah anehnya perempuan: serba ingin tahu. Padahal ada bagian yang tak boleh kita ketahui. Terkadang ketika rasa cemburu itu muncul, aku ingin menghapusnya. Tapi aku kerap gagal menyembunyikan perasaan itu. Akhirnya, kupasrahkan saja pada Allah. Kubiarkan saja ia mau ke mana dan melakukan apa. Ia pasti tahu batasannya. Ia yang bertanggungjawab untuk semua. Sebab ada tanggung jawab moral dalam dirinya, sebagai suami.
Sejak menikah ia sudah melepaskanku ke dalam “hutan” kehidupan. Aku disuruh belajar sendiri. Harus jadi wanita mandiri. Sebab jika kelak ia Pulang lebih dulu ke rumah Allah, aku tetap bisa berdiri tegak. Ia memang keras dalam mendidikku. Sering berlinang airmataku saking sensitifnya hati ini. Tiap kalimat yang ia keluarkan ketika menegurku selalu terasa tajam di hati. Meskipun tegurannya itu tak pernah bernada tinggi. Bahkan lebih sering dalam lirih. Dengan sikap tegasnya itu, ia pelahan ingin mendidikku agar menjadi perempuan yang kuat dalam hal apa pun. Tidak tergantung terus dengan suami. Karena cepat atau lambat, waktu untuk “Pulang” ke rumah asal akan tiba. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar