Kamis, 18 Agustus 2016

Rahasia Tuhan yang Tak Terpecahkan

Kamu bagiku tak hanya perkara kehadiran.
Melampaui itu, juga cinta dan kerinduan

SEMUA dimulai ketika Aku menikah di usia muda. Ini bukanlah hal mudah, banyak yang harus di pelajari, tetapi bukan berarti menikah muda perlu ditakuti. Buktinya, Aku. Anak ingusan, Anak rumahan, duniaku hanya rumah dan kampus, tak pandai bergaul, tak bisa memutuskan segala sesuatu, malah diberi kesempatan besar oleh Allah.

Awal Januari 2012. Aku menganggap dewi keberuntungan sedang hinggap dalam kehidupanku. Baru saja hari baru dimulai, banyak kabar bahagia berdatangan satu persatu. Pertama, pekerjaanku sebagai pemandu tur sekolah, laris manis; kedua, bertemu dengan Khatulistiwamuda—ini bukan berlebihan, tapi saat aku bisa duduk bareng mereka aku merasa menemukan yang selama ini aku cari. Malah kubela-belain meninggalkan tugas dan hilang begitu saja dari organisasi sebelah. Ketiga, aku dianugerahi hadiah—yang adalah pendiri dari organisasi baru yang kuikuti itu.

Hanya dalam rentang limapuluh hari kami saling mengenal, tetiba ia mengajakku untuk menemani hidupnya. Latar belakangnya yang pernah menikah tak pernah aku urus-urus, bahkan saat ia menceritakan semuanya padaku, aku hanya bisa mendengar secara saksama. Pikiranku malah polos saja. Beruntung aku dianugerahi kepolosan. Semua yang sudah kualami sejauh ini, adalah hadiah istimewa dari Allah. Aku belum meminta saja sudah diberi. Terpikir menikah saja belum. Aku hanya memikirkan hari ini. Sebab daya jangkau pikiranku hanya merentang sepanjang satu hari saja.

Menikah dengan orang yang belum lama kukenal, sama dengan mengisi soal ujian tanpa belajar. Bahkan bagaimana kebiasaannya, apa kesukaanya saja aku tak tahu. Modal yakinku saat itu, aku merasa senang dan nyaman jika berdekatan dengannya, sesederhana itu saja.

Meski aku seperti mendapat durian runtuh, namun banyak yang belum kusiapkan. Aku masih tak tahu harus bagaimana. Tak ada yang bisa dibanggakan dariku. Aku tidak bisa masak, tak bisa mencuci pakaian, tak becus mengurus perabotan dapur, apalagi menata rumah tangga.

Alhasil, dalam rentang waktu sembilan bulan aku langsung kursus kilat memasak lewat internet atau langsung sama mama, karena ia gemar sekali makan masakan rumah. Setiap makanan yang kubuat, langsung kufoto dan kirim kepadanya, biar dia senang dan tidak menyesal memilihku.

Apalagi ia banyak menceritakan tentang pengalaman masa lalunya bersama mantan istrinya, tentang bagaimana perempuan harus bersikap. Aku tak tahu itu kode atau bukan, yang kutangkap, ia memintaku bisa seperti itu. Bisa menjadi istri yang menyenangkan dan memahami suaminya.

***

Maafkanlah aku yang telah begitu yakin mencintaimu.
Maafkanlah atas segala kealpaan dan kelemahanku mencintaimu

AKU merasa banyak menyesuaikan diri, belajar menyekolahkan perasan sendiri. Biar cemburu tapi yang elegan. Apalagi kawan kerjanya rerata wanita cantik dan pintar, sedangkan aku? Baca buku saja tidak. Dari situ aku sempat khawatir, apakah kami akan nyambung saat sudah bersatu. Topik apa yang harus kusuguhkan? Aku khawatir tak bisa jadi penyeimbangnya. Meskipun sejauh ini ia selalu sabar menurunkan derajatnya ketika bersamaku. Ia tahu daya jelajah pikiranku tak luas, maka dari itu ia tak akan berbicara hal yang rumit jika kami sedang berdua.

Selama proses menjelang pernikahan, aku mendapat banyak wejangan dari ibu mertua. Beliau mengingatkanku tentang jenis pria yang aku nikahi bukan pada umumnya. Kedua kakinya ada dimana-mana, dan ia dibutuhkan orang banyak. Aku akan lebih sering sendiri, tak bisa rutin liburan atau jalan ke pusat belanja--malah sekarang ia lebih sering mengajakku berkunjung ke maqbarah para aulia. Ia lebih suka baca buku dan hal-hal berbau kemanusiaan.

Berat memang, hidup lebih banyak berteman dengan kesendirian. Apalagi di usia ku yang masih banyak inginnya teriba harus menekan semua itu, karena aku tak bisa berbuat sesuka hati. Kenapa Allah menitipkan amanah sebegini besar kepadaku? Bagaimana aku harus mengurus pria yang “susah diatur” seperti Reno. Padahal mengurus diri saja aku belum becus.

Sembilan November dua ribu dua belas pukul dua siang, ijab-qabul terlaksana. Aku larut dalam haru manakala mendengar papap menikahkan kami. Melepasku. Sejauh ini, yang aku tahu ia jauh sekali dengan kami, ia cuek. Tetapi hari itu aku sadar, bahwa ada perasaannya yang tercoreng, dua anak perempuannya sudah ia nikahkan. Aku tahu pasti ia merasa kehilangan meski tak mengucapkannya. Kini, ia jauh berbeda. Ia selalu merindukan anak-anaknya pulang ke rumah. Walaupun saat kami bertemu ia lebih banyak diam. Aku tahu, itu hanya di permukaan. Hatinya tetap saja emas. Tetap membungah.

Alhamdulilah. Pernikahanku menerbitkan banyak perubahan untuk Papap. Ia bisa melepas anaknya. Berbeda sekali dengan Mama, yang masih saja sedih walaupun sudah berselang tujuh hari dari pernikahanku. Dulu, Reno pernah berpesan padaku, “Maafkanlah kedua orangtuamu itu...” Ya, aku memang sempat membenci Papap karena sikapnya yang keras dan cuek. Aku peribadi nyaris tak merasakan perannya di rumah. Reno juga berpesan padaku tentang Mama, “Coba cuci kedua kaki Mama, terus mintalah maafnya.” Aku menurut.

Setelah kulakukan, kami malah nangis bersama. Segala yang kurasa sebagai aib, kuakui di hadapannya. Sejak saat itu, hidupku pelahan berubah. Semua proses berjalan mudah. Mungkin karena hatiku sudah lapang, melepas masa lalu kelam dalam kehidupan dan mengikhlaskan perbuatan orangtuaku pada kami, anak-anaknya. Aku sudah bisa menghapus semua kesalahan mereka.

Awal menikah, kami tinggal di rumah kontrakan tiga petak, dengan rak buku, karpet gulung, dan satu bantal. Alhasil kalau tidur kami harus berbagi kepala. Rumah kami masih kosong sekali, belum terlihat seperti tempat tinggal pada umumnya. Piring dan gelas saja terbatas tak lebih dari lima buah. Kompor belum ada, apalagi televisi dan mesin cuci. Baru di umur pernikahan setahun aku bisa punya kasur springbed yang empuk, dan nggak bikin badan sakit lagi. Rasanya senang bukan main seperti anak kecil dikasih hadiah kasur oleh suami tercinta.

Aku merasa beruntung semasa masih tinggal bersama orangtua banyak tak punya dan menerima terus apa yang dikasih. Agar bisa nongkrong bersama teman-teman di _mall_, aku harus membuat puding untuk dijual dulu, dan hasilnya masih saja tak cukup untuk membeli makan dan minum di restoran. Dari situlah, aku lebih memilih diam di dalam rumah saja sehabis pulang sekolah atau kuliah. Aku tak mau memaksa diri sendiri dengan melihat barang-barang yang tak mampu terbeli.

Dulu aku merasa jadi manusia paling sedih. Kenapa hidupku seperti ini, untuk membeli baju bagus saja harus banyak bersabar. Mau jejalan saja susah. Paling jauh ke Bogor saat lebaran. Sekarang aku tahu jawabnya. Allah sedang mendidikku  untuk menerima apa yang ada.
Hal ini terasa betul sekarang, Membuatku tak banyak menuntut pada Reno. Ada dan nggak ada sesuatu hal itu, tidak apa-apa. Kendati setelah menikah, hampir semua keinginanku yang dulu tak pernah terwujud, kini berubah nyata. Aku bisa punya telepon genggam canggih, punya sepatu bagus, naik pesawat, naik mobil, plesir keluar kota, bisa beli makanan yang aku suka, bisa ke salon dan sebagainya. Semua nikmat dari Allah itu, bagaikan hadiah kejutan yang tak terhingga.

***
Pendengaranku mengenal baik angin yang mengirim suara langkah kakimu kepadaku

SEJAK mendampingi Reno hampir empat tahun, banyak sekali lika-liku. Aku sendiri tak percaya, hal yang dulu sempat kukhawatirkan ternyata telah terlewati. Ia termasuk tipikal orang yang "gila" kerja, jam kerjanya bisa 32 jam sendiri. Kalau aku terus-terusan marah dan menuntut waktunya untukku bagaimana ia bisa bekerja? Kalau bukan diri sendiri yang mengingatkan, siapa lagi? Aku tak mau mengulangi kesalahan orangtuaku dulu. Setiap rumah tangga selalu ada saja yang diributkan. Mengalah bukan jalan keluar satu-satunya. Kesadaran dan kesabaran juga diperlukan. Perempuan tak selalu benar, dan laki-laki tak selalu salah.

Pelajaran baru yang ku petik semenjak menikah, aku jadi belajar mengalah. Semua kehendak kita tak bisa dipaksakan untuk terjadi. Aku lebih banyak diajari oleh Allah dengan kesendirian. Keadaan sering ditinggal Reno di awal menikah, memang sulit. Perempuan mana yang mau jauh dari orang yang ia kasihi. Sebab ia pasti ingin berada terus didekatnya. Aku pun begitu. Semula tiga hari. Lalu lima hari. Bertambah jadi satu minggu bahkan pernah hampir satu bulan.

Ketika kami dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer sampai beda pulau, memberiku pelajaran tentang arti melepas kemelekatan. Kami jelas takkan terus bersama. Ia hanya titipan dari Allah yang harus aku jaga dan rawat, selaik anak. Sebab aku adalah pengganti ibunya. Ibu kita, pasti akan melakukan yang terbaik. Reno adalah anak pertamaku, tingkahlakunya terkadang mirip seperti anak-anak. Ketika sudah mulai menulis, semua buku diturunkan. Sudah lelah, ia berangkat tidur. Kadang saking lelahnya, buku-buku itu masih berantakan dilantai. Bahkan ia sering tertidur dengan kondisi laptop yang belum dimatikan. Begitulah aku belajar memosisikan diri dan merawatnya. Kebersamaan kami adalah belajar. Entah itu dari buku-buku yang ia punya, atau belajar dari kesalahanku sendiri.

Aku sadar, hidup yang dijalani Reno tak mudah. Ada tanggung jawab cukup besar yang ia emban. Dipundaknya banyak yang menggantungkan harapan dan masa depan. Caraku membantunya, berusaha terus memberikan yang terbaik, sedari urusan makan, minum, atau pakaian yang akan ia gunakan. Ketika melepas ia pergi, saat bersamaan aku harus merelakan apa pun yang akan terjadi padanya. Aku hanya bisa berdoa, ada Allah yang menjaganya. Kalau itu memang pertemuan terakhir kami, setidaknya kami tutup dengan manis. Meski airmata akan berlinang, tapi itu adalah tanda cinta yang tak lekang oleh zaman.

***

Aku ingin mencintaimu dalam kebenaran abadi.
Aku, hanya faqir sejati yang terus mencari air di padang dahaga.
Mengais rindu dalam kelam malam.

SELAIN dianugerahi keindahan, perempuan juga diberikan sifat pencemburu oleh Allah. Dalam berkeluarga, hal yang sulit dan belum bisa kuatasi adalah mengolah rasa cemburu. Baik dengan perempuan maupun waktu. Kadang aku hanya bisa memendam sendiri saja dan mencari-cari tahu. Itulah anehnya perempuan: serba ingin tahu. Padahal ada bagian yang tak boleh kita ketahui. Terkadang ketika rasa cemburu itu muncul, aku ingin menghapusnya. Tapi aku kerap gagal menyembunyikan perasaan itu. Akhirnya, kupasrahkan saja pada Allah. Kubiarkan saja ia mau ke mana dan melakukan apa. Ia pasti tahu batasannya. Ia yang bertanggungjawab untuk semua. Sebab ada tanggung jawab moral dalam dirinya, sebagai suami.

Sejak menikah ia sudah melepaskanku ke dalam “hutan” kehidupan. Aku disuruh belajar sendiri. Harus jadi wanita mandiri. Sebab jika kelak ia Pulang lebih dulu ke rumah Allah, aku tetap bisa berdiri tegak. Ia memang keras dalam mendidikku. Sering berlinang airmataku saking sensitifnya hati ini. Tiap kalimat yang ia keluarkan ketika menegurku selalu terasa tajam di hati. Meskipun tegurannya itu tak pernah bernada tinggi. Bahkan lebih sering dalam lirih. Dengan sikap tegasnya itu, ia pelahan ingin mendidikku agar menjadi perempuan yang kuat dalam hal apa pun. Tidak tergantung terus dengan suami. Karena cepat atau lambat, waktu untuk “Pulang” ke rumah asal akan tiba. []

Selasa, 16 Agustus 2016

Indonesia Merdeka!!!!

"Hiduplah tanah ku, Hiduplah negeriku, bangsaku rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya"


PAGI ini semua melangsungkan upacara penaikan Bendera Merah Putih ditiap daerahnya, baik langsung maupun melalui layar kaca. Lantunan nada Indonesia Raya terasa mengharubiru, mengingatkan aku pada kenangan sembilan tahun silam.

Dengan pakaian serba Putih dilengkapi penutup kepala dengan bros Garuda sebagai penghias. Aku merasa senang sekaligus gugup menghadapi hari besar yang sudah setahun lamanya dinanti. Enam bulan menjalani seleksi, hampir masuk ketahap Provinsi namun gagal akibar stamina yang kurang mumpuni.

Dari ratusan anak di Tangerang, aku kedapatan bertugas di Kota Tangerang mewakili Sekolah kami, SMK PGRI 1. Hampir tiga bulan digembleng dibawah terik matahari, membawa beban mungkin kurang lebih mencapai 5 kilo, membuat tubuhku kurus, belum lagi sakit yang tak kunjung sembuh. Kulitku jadi gelap akibat terpanggang dibawah matahari--meski menggunakan topi sekalipun. Berangkat gelap pulang gelap. Setidaknya aku pernah melakukan hal yang membanggakan buat diri sendiri.

Walaupun prestasi itu sungguh bergengsi dikalangan anak sekolah. Tentunya, perjuangan itu belum sebanding yang dilakukan Bung Karno dalam memperjuangkan Indonesia, sampai separuh hidupnya habis di penjara, pengasingan, bahkan nyawanya pun jadi taruhan asal Indonesia Merdeka!!!

Sekarang dibelahan negeri Indonesia sedang merayakan Kemerdekaan. Bendera merahputih berkibar menghiasai ditiap tiang-tiangnya, sebelum nanti sore akan diturunkan kembali dan dimasukan ke dalam kotak.

Semoga kemerdekaan kali ini tidak hanya dirayakan satu hari saja, tapi bisa dirasakan dimana saja kita berada. 

Terima Bung Karno, terimakasih Bung Hatta dan terimakasih para pejuang atas segala keringat kalian untuk kemerdekaan Indonesia. []


17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2016

Senin, 15 Agustus 2016

Kereta Sejarah

HARI ini aku dapat kesempatan untuk mengunjungi salah satu peninggalan sejarah pada jaman Sukarno berjuang, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. 

Untuk tiket masuknya sendiri perorang 15.000 dan kendaraan lain lagi harganya, kemarin aku menggunakan motor dikenai biaya 6.000. 

Kereta Luar biasa milik Presiden Pertama Indonesia ini disimpan di Museum Transportasi. Oh...iya, untuk masuk ke museum dikenai biaya lagi 5000/orang. Dari pintu masuk sudah terlihat jelas renteran gerbong kereta tersebut, berdiam berjajar bersatu dengan kesepian.

Ada beberapa orang yang peduli ada pula yang datang kemudian berlalu begitu saja, hanya menikmati keindahan tempat itu untuk keperluan fotografi saja.

Semua yang terjadi pada orang-orang itu tak pernah ada yang salah, aku tak bisa menghakimi semata. Kalau saja, suamiku tak memperkenalkan siapa itu Sukarno dan bagaimana perjuangan beliau, mungkin aku juga berada diposisi mereka.

Pertama kali melihat wujud Kereta Luar Biasa itu, bulu kuduk langsung merinding. Melihat saksi bisu yang membantu Bung Karno dan Bung Hatta melarikan diri ke Jogja dari incaran tentara sekutu, pada 3 Januari 1946. Momen itu tidak bisa dijelaskan pakai kalimat sebanyak apapun, semua bercampur aduk dalam perasaan. Senang, sedih, bingung, kagum dan sebagainya.

Kami mencoba mengabadikan dengan berfoto di dekat tempat Bung Karno mengulurkan kepalanya menyapa rakyat Indonesia setibanya di Jogjakarta.

Sesekali, aroma sedap malam terhirup hidungku, mungkin Bapak datang menghampiri kami, senang melihat generasinya masih ingat dengan perjuangannya.[]

Minggu, 14 Agustus 2016

Rumah Kehidupan

KETIKA banyak yang berujar bahwa perempuan ketika menikah akan putus kehidupannya. Nampaknya, itu hanya isapan jempol belaka menurut aku, semua tergantung kebijakan pasangan sebelum memulai untuk hidup bersama.

Menjadi perempuan karir atau ibu rumah tangga itu merupakan sebuah pilihan hidup masing-masing orang, pasti yang memilih diantaranya mempunyai alasan yang sama penting dalam kehidupannya. 

Aku memilih menjadi perempuan rumahan sudah lama sekali, makanya ketika menikah aku sama sekali tidak kepikiran untuk bekerja. Karena memang aku tidak suka bekerja yang serius, diam di kantor. Pilihan ini memang mengundang kontroversi di sekitar, banyak pertanyaan-pertanyaan seperti ini "masa gak mau kerja?masa mau tergantung sama uang suami terus?, emang gak mau punya uang jajan sendiri." semua itu kan pilihan dan ada resikonya. 

Empat tahun sudah aku menikah, sebagai istri yang sedang belajar menjadi istri yang baik adalah mengabdi kepada suaminya. Kami memiliki pekerjaan yang sama-sama berat, aku dirumah mengurusi segala hal tentang perumahtanggan dan dia bekerja mencari nafkah.  Dia lebih rentan terkena debu, penyakit, kehujanan, kena macet dimana-mana, sedangkan aku dirumah walaupun cape masih bisa berlindung dari panas, hujan dan debu, masih bisa menikmati sepiring buah sambil menonton televisi. 

Pilihan kita memang berbeda-beda, ada yang bekerja, berwirausaha atau menjadi ibu rumah tangga saja. Semua tidak ada yang salah dan tidak boleh disalahkan. Semua pasti punya alasannya sendiri. Kami mempunyai tanggung jawab masing-masing, kelak dihadapan Allah semua akan dipertanggungjawabkan.

Meski pemasukan dirumah kami hanya lewat satu pintu, alhamdulillah masih bisa makan dan jalan kemana-mana. Suami selalu berusaha bagaimana dapur selalu ngebul. Walaupun pernah mengalami rasa sulit sampai membongkar celengan, setidaknya aku tak memiliki beban yang harus dibayarkan kepada pihak-pihak bank. 

Jika kaya hanya diibaratkan uang saja, punya ini dan itu. Bagi keluarga kami itu tak berlaku. Kaya itu cukup dengan apa yang sudah ada, miskin itu selalu merasa kurang. Setiap perempuan pasti banyak keinginannya mau beli barang ini dan itu, tapi suamiku tak pernah melarang untuk membelinya asal tidak mubajir. Tapi, pelahan aku mulai berpikir sendiri. "Cukup sebagai kata kuncinya, aku harus belajar cukup dengan yang sudah ada. Kalau merasa kurang berarti aku kurang bersyukur, kalau aku berlebihan berarti aku rakus"

Sejak jaman nenek kita sudah mempercayai jodoh, rezeki, mati sudah diatur oleh Allah. Ya,,,sudah sekarang kita belajar percaya. Karena, Allah tidak pernah berbohong. Setidaknya, aku juga sedang berusaha menjadi mahluk yang manut pada setiap kehendakNya. Meski perkataan dan tindakan pasti gak akan mudah di samakan jalannya. Tapi, semua butuh proses. Hidup, tak hanya di dunia saja. []